RASA HARI INI
Seperti dedaunan kering terbawa angin sore, terpinggir dan kelak terlupakan bersama datangnya senja dibayang gelap malam.
dan hari esok terus bergulir, seperti kehidupan, ada pagi yang cerah dan ada malam yang hangat.
seperti hangatnya sinar mentari pagi, tak terlupakan, walau tenggelam, terbenam dikedalaman samudra, hangatnya terus menghidupi jiwa, tak tergantikan.
embun subuh yang dingin, merasuk perih, pilu, disela sujud dan lafal gemetar mengucap asmaMu.
dan disetiap hela nafas dan doa berbalut tetes dikelopak mata yang tak kunjung henti, berharap yang terbaik untuk yang tercinta.
(18/9/2013)

Mengendalikan emosi, rasa tak memiliki, rasa diacuhkan, apalagi cemburu sangat susah. Perasaan seperti itu datang dan pergi tanpa pernah kompromi dahulu. Sisi gelap manusia, yg tak pernah diaku karena egois. Hari yang cerah bisa menjadi mendung berkepanjangan karena hal sepele, (ketika rasional datang, dan biasanya selalu diakhir). Itu semua karena rasa sayang, rasa kasih, dan cinta.
Sedang bahagia adalah kata lain, yang diterjemahkan harfiah, sebagai milik sendiri dan dianalogikan bahwa bahagiaku adalah bahagiamu. Padahal tidak. Bahagia adalah saat kekasih, orang tercinta, tersayang dapat merasakan harinya dengan indah, dengan senyum dan terutama tanpa rasa khawatir mengusik sanubarinya.
Apa yg telah kulakukan merefleksikan rasa bahagia itu? Mungkin senyum dan hari indah, secara fisik mudah dirasa. Lalu rasa khawatir dalam sanubari? Rasa waswas, rasa tak nyaman? Hanya masing-masing yang bisa menjawab dengan hati sejujurnya kepada diri sendiri.
Namun diatas itu semua, kuingin hari-hari mu bisa kau jalani tanpa rasa khawatir. Mungkin sejenak senyum dan hari indahmu agak pudar, percayalah dengan hilangnya rasa waswas itu, senyum dan hari indahmu akan semerbak kembali.
Bahagiamu, bagiku diatas segala-galanya.
Bahagia dariku hanyalah semu, tak pernah bisa lengkap. Karena aku tak kuasa menghilangkan rasa waswas itu, rasa khawatir itu dari sanubarimu.
Kuceritakan apa yang kulakukan selama ini. Aku matikan semua rasa. Kudengar cerita masa lalumu, tapi tak pernah kusimpan. Sayangnya aku manusia, terkadang meledak juga. Maafkan aku.
Lalu hidupmu saat ini, Aku coba buang semua cerita kalian berdua, tak pernah juga kusimpan, sekali lagi aku mohon maaf, selalu tersisa, tak bisa seluruhnya kuhapus. Dari cerita keseharian, yang kurasakan, rasa sayang itu tak akan hilang, selalu ada untuknya. Harusnya aku bahagia, harusnya....
Tidak untuk meminta belas, tak juga untuk mencari simpati. Malam-malam ku selalu ditemani airmata setiap kukenang kau.
Hari bersamamu selalu didamba setiap saat, selalu memberi semangat jiwa.
Bukan merajuk, aku ingin kau renung dan renung lagi, apakah sepadan apa yg telah kau korbankan?
Jangan pula berprasangka, kata-kata diatas bukan juga kalimat untuk mengakhiri hubungan indah ini, aku hanya ingin kau memikirkan ulang dengan segala resikonya.
Sesaat kini ketika waktu untuk kita sedang terbatas, saatnya pula kau bisa mencoba mengkaji. Kalau kau tanya sakitkah ketika menulis ini?
Sakit, pedih, perih....tak terkira.
(sekitar Maret 2014)